Rabu, 03 September 2008

Kebun Mawar Rahasia Ilahi

Sa’duddin Mahmud Syabistari

Cahaya dalam diri menciptakan Sufi, bukan kebiasaan agama. Sa’duddin Mahmud Syabistari dilahirkan di Syabistar, dekat Tabriz, sekitar tahun 1250 M. Dia menulis Gulshan-i-Raz, atau Kebun Mawar Rahasia, sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh seorang doktor Sufi dari Herat bernama Dmir Syad Hosaini. Sangat sedikit kisah tentang kehidupan Mahmud Syabistari.

Dia menulis dua risalah lain tentang Sufisme di samping Gulshan-i-Raz yakni Haqqul Yaqin dan Risala-i-Shadid. Yang kita ketahui hanyalah bahwa dia memiliki seorang murid kesayangan bernama Syekh Ibrahim. Gulshan-i-Raz diperkenalkan di Eropa oleh dua pelancong di tahun 1770. Selanjutnya, salinan-salinan puisinya ditemukan di beberapa perpustakaan Eropa. Pada tahun 1821 Dr. Tholuck, dari Berlin, menerbitkan nukilan-nukilannya, dan pada tahun 1825 sebuah terjemahan bahasa Jerman dari petikan puisi itu muncul dalam buku lain yang ditulisnya. Setelah itu sebuah terjemahan lirik dan teks Persia diterbitkan oleh Von Hammer Purgstall di Berlin dan Vienna. Gilshan-i-Raz diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan, dengan teks Persia dan nukilan dari edisi Hammer dan catatan-catatan Lajihi, oleh Mr. Whinfield pada tahun 1880.

Puisi Sufi

Para pembaca puisi Sufi hampir pasti akan terpesona, mungkin bahkan terseret, oleh bahasanya yang luar biasa elok, oleh keakraban dengan Sang Khaliq, oleh pengabaian yang tampak jelas pada semua hukum manusia dan Ilahiah. Tetapi pada pengujian selanjutnya keajaiban cinta para Sufi kepada Sang Kekasih memancar dengan intensitas yang jernih, laksana terang yang bersiram cahaya indah.
Mereka sedang jatuh cinta kepada Sang Tunggal, dan cinta mereka mewujud ke dalam lagu-lagu pujian dan ketakjuban yang begitu elok:

Aku mendengar dan terpikat;
ruhku bergegas untuk merengkuh
dekapan penerimaan Cinta,
karena suara itu begitu manis.
Vaughan berkata:
Mistisisme Oriental telah menjadi terkenal karena pujangga-pujangganya, dan dalam puisi ia melepaskan semua kekuatan dan apinya.
[Kaurn Sufi] … memiliki tugas tunggal dan sederhana, untuk menjadikan hati mereka sebuah cermin yang suci bagi Tuhan.
Cinta adalah tema kaum Sufi, Ilahi, Cinta Abadi, dan ke dalam lautan Cinta mereka merangkum pasrah tanpa berpikir panjang.

Rumi bernyanyi:
Ngengat-ngengat, terbakar oleh cahaya obor di wajah Sang Kekasih, adalah pecinta-pecinta yang berdiam di tempat suci.

Kalaupun kita dianggap gila atau mabuk, ini karena Pembawa Piala dan Sang Piala.
Karena mulutku telah mengunyah Kemanisan-Nya Dalam pandangan yang jelas kulihat Dia berhadap-hadapan.

Simbolisme Sufi

Dalam membaca puisi kaum Sufi yang mempesona, haruslah diingat bahwa, meskipun symbol-simbol cinta dan keindahan keduniawian dipergunakan secara bebas, namun makna yang sesungguhnya tersembunyi. Tidak ragu lagi, ini secara sengaja dilakukan untuk tetap menjaga rahasia cinta mistis mereka, agar duniawi tidak mencemooh. Tetapi bersamaan berlalunya waktu, kata-kata tertentu mulai memiliki makna yang sudah dikenal di kalangan mereka sendiri. Misalnya:

Pelukan dan ciuman adalah pesona-pesona cinta.
Tidur adalah kontemplasi,
Parfum adalah harapan untuk berkah Ilahi.

Anggur, yang dilarang oleh Nabi Muhammad kepada pengikutnya, digunakan sebagai sebuah symbol-kata oleh kaum Sufi untuk menunjuk pengetahuan spiritual, dan
Penjual anggur berarti seorang pemandu spiritual.

Sebuah Kedai minum adalah tempat dimana anggur cinta Ilahi memabukkan para musafir.
Kemabukan berarti ekstase religius, Keriangan adalah kesenangan dalam cinta Sang Khaliq.
Keindahan berarti keagungan Sang Kekasih.

Rambut ikal dan Rambut berarti kemurnian yang menyelubungi wajah Kesatuan dari para pecinta-Nya.
Pipi berarti esensi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi. Bulu halus adalah dunia ruh-ruh suci yang paling dekat dengan Ketuhanan. Tahi lalat pada pipi adalah titik Kesatuan yang tak bisa dibagi.
Obor adalah cahaya yang terpancar dalam hati oleh Sang Kekasih.

Kita karenanya memahami bahwa bagi Sufi, cinta antara laki-laki dan perempuan adalah sebuah gambaran berbayang dari cinta antara jiwa dan Tuhan, dan sebagaimana seorang pecinta akan memimpikan kekasihnya, menyanyikan pujian-pujiannya, dan selalu dahaga untuk menatap wajahnya, demikian pula kaum Sufi terus-menerus memimpikan Tuhan mereka, dengan merenungkan sifat-sifat-Nya, dan terserap oleh kerinduan yang membakar pada kehadiran-Nya.

Sejarah mistisisme berisi banyak lagu yang menggelora untuk Sang Mutlak, tetapi dalam puisi Sufi ada sebuah kekayaan yang khas, sebuah kedalaman, sebuah warna yang memikat dan mempesona begitu banyak dari kita. Puisi Sufi berlimpahan kiasan-kiasan dan kisah-kisah cinta, cerita-cerita tentang Laila dan Majnun, Yusuf dan Zulaikha, Salaman dan Absal, dimana mudah untuk membaca makna tersembunyi dari nafsu kepada Sang Mutlak. Tema tema cinta kaum Sufi begitu beragam; kita mendengar nyanyian-nyanyian burung bul-bul yang sedang jatuh cinta pada bunga mawar, ngengat yang bergirangan mengitari cahaya lilin, burung merpati yang gundah gulana karena kehilangan pasangannya, salju yang meleleh di padang pasir dan bergerak ke langit sebagai asap, tentang sebuah malam yang gulita di gurun bersarna seekor unta yang membeku kedinginan, tentang alang-alang yang tersobek dari akarnya menjadi sebuah seruling dengan nada sendu yang meneteskan air mata.

Seni Syabistari

Telah saya sebutkan bahwa sedikit sekali pengetahuan kita tentang hidup Syabistari, tetapi berkenaan dengan ajaran dan pengetahuannya tentang Sufisme terdapat bukti dalam buku ini; dan meskipun dia tidak terpikat oleh ketakjuban subtil Hafizh, meskipun dia tidak memiliki keaslian Rumi atau dalam gaya tidak sebanding dengan elegansi jami, tetapi dalam kepolosan dan kelangsungan ucapannya, dan dalam kesungguhan tujuannya, dia mungkin melebihi mereka semua. Dia memberi kita sebuah pandangan yang jelas dan terang dalam sinar matahari yang terang benderang tentang Kebajikan dan Kejahatan, Hakikat dan Ilusi, Kearifan dan Pengabaian.

Kita tidak menemukan diri kita dalam senjakala dari sebuah pulau berwarna indah yang kadang-kadang kita jelalahi, tertarik ke mari oleh suara-suara manis kaum Sufi, di mana, di tengah-tengah parfum yang semerbak wangi dari sebuah taman Oriental, sang pecinta sedang melantunkan lagu-lagu cinta yang memikat, baik tentang nafsu duniawi atau kemabukan Ilahiah, tetaplah menjadi kontroversi yang memanas sampai saat ini. Tidak pula kita memperoleh nasihat yang berani seperti diberikan Jami ketika
dia bernyanyi:

Reguklah dalam-dalam cinta duniawi,
agar bibirmu mampu mengecap
anggur cinta yang lebih suci.

Pandangan Mahmud pada Sang Hakikat adalah langsung dan distingtif, bukannya pandangan tak langsung yang menjadi penglihatan sebagian mistikus, dan dari Sang Hakikat ini dia mampu membedakan dengan tajam antara kekuatan-kekuatan Kebaikan dan Kejahatan yang saling bertikai. Dia mendorong dengan penuh kasih kepada manusia untuk mencari Kebenaran (al-Haqq), untuk merindukan substansi bukannya fatamorgana, untuk mengabaikan pikatan dan ilusi cinta duniawiah, tetapi justru memusatkan semua kekaguman hatinya kepada Sang Kekasih.

Kebun Mawar Rahasia

Hampir tujuh ratus tahun sejak Mahmud menanami kebunnya dengan mawar-mawar Cinta dan Kekaguman, Akal Budi dan Iluminasi Spiritual. Sejak itu, banyak yang telah mengembara di sana, berdiam di jalan-jalan rahasia dan memetik mekar-mekar bunga yang harum untuk dibawa pulang ke dunia bayang-bayang dan tak nyata. Apa warna mawar-mawar yang tidak bisa lekang ini? Apa keagungan abadi mereka, dan bebauan apa yang terhirup dari mereka sehingga tetap hidup melewati zaman-zaman? Puisi ini dibuka dengan pernyataan tentang eksistensi tunggal Sang Dzat Sejati, dan ilusi fatamorgana dunia. Bagaimana manusia bisa mencapai pengetahuan tentang Tuhan? Dengan pikiran, karena Pikiran berlalu dari kesalahan menuju kebenaran.

Tetapi akal budi dan indera tidak mampu membinasakan kenyataan dunia fenomenal yang tampak ini. Akal budi yang memandang Cahaya Maha Cahaya telah terbutakan seperti seekor kelelawar yang terbutakan sinar matahari. Ia kemudian menjadi kesadaran yang muncul dalam jiwanya yang hampa.

Pada titik ini (pembasmian diri) memungkinkan bagi manusia untuk menatap cahaya Ruh. Di dunia ini terpantullah beragam atribut Sang Wujud, dan setiap atom Tak-Wujud merefleksikan satu atribut Ilahi: Setiap atom bersembunyi di balik selubungnva kecantikan yang menakjubkan jiwa dari wajah Sang Kekasih.

Dan atom-atom ini sangat merindu untuk bergabung kembali dengan sumber mereka. Perjalanan menuju Sang Kekasih hanya memiliki dua tahapan: mematikan diri dan menyatu dengan Sang Kebenaran.

Dua tahapan ini “perjalanan ke atas menuju Tuhan” dan “perjalanan turun menuju Tuhan” - adalah sebuah sirkuit. Barangsiapa yang telah mengitari sirkuit ini menjadi seorang manusia sempurna.

Ketika dilahirkan ke dunia ini, manusia dikuasai oleh nafsu-nafsu setan, dan jika dia memberikan jalan kepada nafsu-nafsu itu maka jiwanya akan tersesat. Tetapi pada masing-masing jiwa ada sebuah insting kepada Tuhan dan kerinduan kepada kesucian. Jika kehendak manusia mendorong insting ini dan mengembangkan kerinduan ini, semburat cahaya Ilahi akan menyiraminya, dan dia, dengan rasa penyesalan, berpaling dan berjalan menuju Tuhan; setelah berhasil mengesampingkan keakuan, dia akan bertemu dan menyatu dengan Sang Kebenaran dalam ruh.

Inilah keadaan suci para wali dan rasul. Tetapi manusia tidak boleh beristirahat dalam kesatuan Ilahiah ini. Dia harus kembali kepada dunia tak hakiki ini, dan dalam perjalanan turun ke bumi ini harus tetap menjaga hukum dan keimanan manusia umumnya. Eksistensi fenomenal ini, yakni, Tak-Wujud, adalah sebuah ilusi yang ditipekan dengan mempertimbangkan ketidaknyataan gema-gema dan refleksi-refleksi dan dengan merenungkan masa silam dan masa depan, dan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi, yang sesaat eksistensi mereka tampak nyata, tetapi tenggelam ke masa silam menjadi samar dan berbayang.

Disposisi-disposisi yang diperoleh manusia dalam hidup ini di dunia esok akan dimanifestasikan ke dalam tubuh-tubuh spiritual; setiap bentuk akan sesuai dengan kehidupan masa silam. Gagasan material Surga dan neraka selanjutnya akan dikenal sebagai kisah yang ganjil. Tak ada sifat atau distingsi akan tetap sama untuk kehendak yang sempurna. Maka minumlah dengan piala kesatuan dengan Tuhan. Yang demikian adalah harapan kaum Sufi, tetapi di dunia ini kemabukan dari piala kesatuan diikuti oleh kepeningan perpisahan.

Pohon Pusat Keindahan

Di seluruh kebun rahasianya Mahmud telah menanamkan mawar-mawar Akal Budi, Keyakinan, Pengetahuan dan Keimanan; mereka sedang bermekaran di mana-mana, indah dalam warna Kebenaran dan Kemurnian yang penuh semangat. Tetapi di dalam pusat inilah kita temukan sebatang pohon Mawar keagungan yang tiada bandingannya, yang berkilauan dengan mekar-mekar pengabdian cinta; inilah pohon yang ditanam Mahmud dengan sepenuh kekaguman jiwa - penggambaran wajah sempurna Sang Kekasih. Di tempat ini kita terpaku dan terpesona, dan dalam ketenangan mistis kita tampak mendengar suara, dalam kerinduan cinta yang panjang, jiwa yang menanam pohon-Mawar ini, menggemakan perkataan yang sublim:

Lihat hanya Satu,
katakan hanya Satu,
kenal hanya Satu.

Sumber: www.sufinews.com

Herarki Kewalian


Syaikh Abu Hasan Ali Hujwiri dalam kitabnya yang berjudul Kasyf Al-Mahjub, mengatakan bahwa wali Akhyar sebanyak 300 orang, wali Abdal sebanyak 40 orang, wali Abrar sebanyak 7 orang, wali Autad sebanyak 4 orang, wali Nuqaba sebanyak 3 orang dan wali Quthub atau Ghauts sebanyak 1 orang. Sedangkan menurut Syaikhul Akbar Muhyiddin ibnu ‘Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah membuat pembagian tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:

1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.

2. Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bergelar Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bergelar Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.

3. Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Ka’bah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdul Murid.

4. Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu ‘Arabi) mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.

Pada tahun 586 di Spanyol, Muhyiddin ibnu ‘Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Sahabat Muhyiddin ibnu ‘Arabi yang bernama Abdul Majid bin Salamah mengaku pernah juga bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.

5. Wali Nuqoba’
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

6. Wali Nujaba’
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

7. Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair ibnu Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.

8. Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.

Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.

Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.

9. Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd saw.

Jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah ada 356 sosok, yang mereka itu ada dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.
Sedangkan menurut Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu ‘Arabi (menurut beliau muncul dari mukasyafah) maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah disebut diatas, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada satu orang yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammadi, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammadi pada zaman ini (zaman Muhyiddin ibnu ‘Arabi), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H. Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para Wali: Ummahat, Aqthab, A’immah, Autad, Abdal, Nuqaba’ dan Nujaba’.

Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’ sebagaimana gelar Khatamun Nubuwwah yang disandang oleh Nabi Muhammad saw?.

Ibnu Araby menjawab :
“al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Nabi Isa ‘alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad saw sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Nabi Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Nabi Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tetapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad saw, bergabung dengan para Wali dari ummat Nabi Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.

Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam as. Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Nabi Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Nabi Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.

Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (zaman Muhyiddin ibnu ‘Arabi) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal di tahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Penutup Kewalian Muhammadiyah darinya. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirr-nya.

Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammadi, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Nabi Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya’ Muhammadi, dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad saw. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Nabi Isa ‘alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Nabi Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya”.
Dilain tempat, Ibnu ‘Arabi mengatakan bahwa dirinyalah yang menjadi Segel (Penutup) Kewalian Muhammad.

Beberapa wali yang pernah mencapai derajat
wali Quthub al-Aqthab (Quthub al-Ghaus) pada masanya

Sayyid Hasan ibnu Ali ibnu Abi Thalib
Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz
Syaikh Yusuf al-Hamadani
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Syaikh Ahmad al-Rifa’i
Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy
Syaikh Ahmad Badawi
Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
Syaikh Muhyiddin ibnu Arabi
Syaikh Muhammad Bahauddin an-Naqsabandi
Syaikh Ibrahim Addusuqi
Syaikh Jalaluddin Rumi

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Beliau pernah berkata “Kakiku ada diatas kepala seluruh wali.” Menurut Abdul Rahman Jami dalam kitabnya yang berjudul Nafahat Al-Uns, bahwa beberapa wali terkemuka diberbagai abad sungguh-sungguh meletakkan kepala mereka dibawah kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Syaikh Ahmad al-Rifa’i

Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata :
“Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Quthub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Quthubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghaus!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghausiyah”.
Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Syaikh Ahmad al-Rifa’i telah melampaui “Maqamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).

Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana ya kanjeng syaikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.

Syaikh Ahmad Badawi

Setiap hari, dari pagi hingga sore, beliau menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat.
Pada usia dini beliau telah hafal al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan syaikh Ahmad Rifai. Suatu hari, ketika beliau telah sampai ketingkatannya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, menawarkan kepadanya: ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masyriq atau Maghrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Syaikh Ahmad Rifai, dengan lembut, dan karna menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari al-Fattah (Allah )”.
Peninggalan syaikh Ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan shalawat badawiyah sughro dan shalawat badawiyah kubro.

Syaikh Abu Hasan asy-Syazili

Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.
Di antara keramatnya para Shiddiqin ialah :

1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).
2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).
3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.
Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :
1. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt.
2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.

Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya. Kemudian beliau menjawab, “Guruku adalah Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Usman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung. Beliau pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca Radiyallahu ‘an Asy-Syekh Abul Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku”. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, “Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syaikh Abu Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah swt, apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw menjawab, “Abu Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawassul kepada Abu Hasan, maka berarti dia sama saja bertawassul kepadaku”.

Peninggalan syaikh Abu Hasan asy-Syazili yang sangat utama, yaitu Hizib Nashr dan Hizib Bahar. Orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan istiqomah, akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Hizib Bahar ditulis syaikh Abu Hasan asy-Syazili di Laut Merah (Laut Qulzum). Di laut yang membelah Asia dan Afrika itu syaikh Abu Hasan asy-Syazili pernah berlayar menumpang perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup, sehingga perahu tidak bisa berlayar selama beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian Syaikh al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau datang membawa kabar gembira. Lalu, menuntun syaikh Abu Hasan asy-Syazili melafazkan doa-doa. Usai syaikh Abu Hasan asy-Syazili membaca doa, angin bertiup dan kapal kembali berlayar.

sumber: http://aufklarung.org

Selasa, 02 September 2008

TABIR CAHAYA

ini adalah awal kepulanganku pada jalan Tuhan. Setelah aku keluar dari lintasan. Meninggalkan hampir semua keharusan yang mesti aku lakukan pada jalan Tuhan. Semua itu terjadi dengan sadar, bahwa aku memang mengambil keputusan ini : meninggalkan jalan yang katanya benar. segala kegagalan, frustasi, kepenatan, dalam mengisi hidup yang tak menyenangkan dan tak menenangkan.

Hidup yang kulalui tanpa upaya pendekatan diri pada cahaya abadi membuatku makin tak survive. ini salah satu uji coba yang kulakukan, dimana aku hanya ingin mengejar kenikmatan duniawi. Dan yang aku dapatkan adalah masalah yang beruntut.

Bagi orang yang pernah meniti jalan kebaikan, memang tak sepenuhnya aku melupakan “kenyataan Tuhan”. Pada saat aku berpikir tentang hal-hal di luar nilai agama, saat itu pula aku sebenarnya meyakini bahwa Tuhan memang nyata. Tapi itu tak lantas membuatkan langsung tobat dan kembali pada aturan-Nya. Aku tetap berkeras diri meninggalkan segala kewajiban sebagai mahluk ciptaan-Nya.

Semakin jauh, semakin aku tak bisa benar-benar mengingkari “Kenyataan Tuhan”. Dalam “kekafiran” aku mendapatkan kesimpulan sendiri tentang bagaimana mestinya manusia berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketika shalat, sangat terasa bedanya ketika aku melakukannya sebelum menempuh jalan yang kering meradang ini. Aku melaksanakan shalat, seperti ada tabir yang membenturkan komunikasiku dengan Tuhan. Shalat yang kulakukan hanyalah sekedar bergerak dan bercuap-cuap saja. Tak ada nada indah yang terekam dalam bathinku. Hambar, tak ada efek sama sekali.

Ketidakberasaan dalam menjalankan ibadah pada jalan yang hambar itu juga menimbulkan efek yang serba rendah. Ucapan, cara pandang, dan perilaku menjadi tak terkontrol. Ini kusadari. Karena hampir setiap malam dalam hidup yang bernilai itu, aku selalu merenungkan perbedaan ketika aku berada dalam jalan-Nya dan ketika aku meninggalkannya. Tapi karena aku sudah merencanakan kekafiran ini sebelumnya, tetap saja aku tak pernah mau kembali pada jalan yang benar. Rencana inipun tak pernah kubatasi sampai kapan. Terserah pada panggilan jiwaku sendiri untuk menyudahinya.

Nasehat orang yang terdekat dengankupun tak kudengar. Karena jika aku menjalankan kebaikan berdasarkan nasehat-nasehat tersebut, sama saja : aku tak merasakan kenikmatan dalam menjalankannya. Aku ingin kepulanganku pada jalan Tuhan karena keputusanku sendiri. Karena kekafiran ini juga aku sendiri yang memutuskannya. Aku lakukan hal ini untuk mendapatkan “pelajaran” yang tak bisa aku dapatkan dari buku, sekolah, ceramah, website, atau manapun.

Ternyata pada tahun inilah aku merasakan sudah saatnya untuk pulang. Aku yakin sekali ini adalah saat yang tepat untuk menyudahi eksperimenku tentang kekafiran.

Ada satu hal besar yang aku rasakan ketika mulai mengetuk pintu spiritual. Yang paling terasa adalah antara aku dan al-Haq, ada tabir yang begitu tebal. Mungkin ketebalannya sebanding dengan lamanya aku hidup di luar ruang spiritual. Sulit sekali untuk menembus tabir tersebut, kecuali aku benar-benar bertekad untuk kembali pada fitrahku sebagai ciptaan. Dan itupun tak lantas menyingkapkan tabir tersebut. Tapi aku yakin, sedikit demi sedikit tabir rahasia ini dapat kutembus hingga aku tak pernah mau memprediksikannya. Yang penting bagiku sekarang adalah terus berupaya menembus tabir cahaya itu. Ya, mungkin istilah TABIR CAHAYA itu agaknya tepat untuk menggambarkan kebuntuan dalam komunikasi spiritual.